Resume Seminar
“Strategi Pemasaran Produk & Kemasan Yang Berkualitas Di Era Mea 2015” Juga
“Mengembangkan Semangat Entrepreneurship dalam menghadapi Mea 2015”
Tutor:
Bambang Sutedjo & Dr. Michael Adiwijaya
Created
by: Ardila Wahyu Sintana/131500060/Manajemen A 2013/FE UNIPA
Latar Belakang MEA
Masyarakat Ekonomi
ASEAN (MEA) merupakan sebuah kesepakatan antara anggota ASEAN yang bertujuan
untuk menghimpun negara-negara ASEAN ke dalam sebuah pasar tunggal. Konsekuensi
logis dari rencana ini adalah adanya pasar bebas (Free Trade Area) antara
Negara-negara anggota ASEAN. Ide MEA ini sudah di rintis sejak 10 tahun lalu.
Yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan
ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan standar hidup penduduk negara
anggota ASEAN.
Ada 4 area yang
menjadi pilar MEA yaitu :
- Pasar
tunggal dan basis produksi
- Wilayah
ekonomi yang berdaya saing tinggi
- Menjadi
Kawasan dengan pembangunan ekonomi yang seimbang
- Menuju
integrasi penuh dengan ekonomi global.
Dengan diberlakukannya
MEA nantinya tiap negara ASEAN akan mengurangi hambatan tarif seminimal mungkin
hingga mencapai nol persen. Dari sisi Indonesia artinya dengan di
implementasikannya pasar tunggal ASEAN berarti arus barang impor dari
Negara-negara anggota ASEAN lain akan bebas masuk ke Indonesia.
Keuntungan dan
Tantangan Indonesia menjelang MEA 2015
Di mata korporasi
korporasi dunia, Indonesia dan ASEAN adalah kawasan yang paling menjanjikan,
baik dari sisi jumlah penduduk maupun daya beli yang terus meningkat.
Di antara negara
ASEAN, Indonesia merupakan pasar terbesar dimana Sepertiga potensi pasar ASEAN
ada di Indonesia. Ditambah lagi pertumbuhan daya beli masyarakat Indonesia yang
terus menerus meunjukkan peningkatan tajam. Sebagai negara terbesar di ASEAN
dengan banyaknya populasi penduduk serta kekayaan alam berlimpah, Indonesia jangan
hanya bersikap pasif dan pasrah menghadapi serangan produk dari negara-negara
ASEAN lain. Jangan sampai pengusaha dan Industri Indonesia bukannya jadi tuan
rumah, malah jadi penonton di negara sendiri.
Cara Memenangkan Persaingan
menghadapi kompetitor ASEAN
Untuk bisa memenangkan
persaingan dengan perusahaan perusahaan ASEAN lainnya, ada beberapa hal yang
harus segera dilakukan korporat Indonesia.
Pertama, Mulai dengan
merubah Pola Pikir atau Mindset.
Kita jangan lagi
terlena masa lampau yang penuh proteksi ataupun hanya fokus mengandalkan pasar
Indonesia yang besar ini. Menjelang Pasar bebas ASEAN, kompetisi akan
semakin ketat, dimana untuk memenangkan kompetisi
melawan korporasi dari negara ASEAN lain diperlukan mental agresif menyerang,
bukan mental pasif bertahan.
untuk bertahan kita
harus berani menyerang, bukan hanya menjadi local champion tapi juga berani
berkompetisi dengan masuk ke negara negara lain dan menjadi champion in other country sambil merintis jalan
menjadi Regional ASEAN champion.
Ini bukan cita cita
mustahil, namun di perlukan keseriusan, kerja keras, komitmen dan konsistensi
korporat dan marketer Indonesia untuk mewujudkan cita cita ini.
Betapa cuek nya
korporat dan pengusaha Indonesia untuk menggarap pasar internasional. Jangankan
pasar Internasional, menggarap pasar ASEAN yang ibaratnya masih di pekarangan
rumah belakang pun terlihat tidak bersemangat.
Pilih Produk yang Pas
Walaupun keliatannya
mirip, konsumen ASEAN sesungguhnya punya kultur dan selera yang berbeda dalam
berbelanja. Carilah produk atau pelayanan yang pas, yang kira kira bakal di
minati dan bakal laku di negara yang di tuju. Misalnya untuk produk makanan :
Produk mie Instan rasa Indonesia cocok dengan selera konsumen Malaysia namun
kalau mau sukses di Thailand atau Filipina, taste nya harus di sesuaikan dengan
selera lokal.
Dari segi packaging, Marketer Indonesia harus jeli juga membaca purchase habit konsumen di
tiap negara, misalnya produk deterjen bubuk, pasar Indonesia, Filipina dan
Vietnam agak mirip dari sisi purchase habit consumer yang banyak membeli
deterjen bubuk dalam bentuk kemasan kecil, bahkan sachet 32 gram, sedangkan
konsumen Malaysia, Singapura dan Thailand lebih suka membeli kemasan besar 1 kg
– 2 kg karena lebih praktis dan secara value per gram nya lebih murah
dibandingkan beli kemasan renceng.
Ketiga, Pentingnya
Investasi Merek
Di bandingkan dengan
negara maju yang pertumbuhan pasar private label nya lebih bagus dari branded
items atau kawasan Timur tengah dan Afrika yang lebih kurang peduli akan brand,
konsumen ASEAN boleh dibilang sangat Brand concious. Ini
bisa di lihat dari padatnya jumlah iklan di semua media, dari media
cetak, Televisi hingga media luar ruang.
Menurut saya investasi
merek adalah sangat penting dilakukan oleh korporat dan brand owner Indonesia,
dan ini akan menguntungkan tidak saja untuk mendapatkan short term sales tapi
long term investment. Investasi merek tidak mesti mahal atau harus menggunakan
medium TV, masih banyak lagi media yang bisa di gunakan untuk melakukan
komunikasi merek, termasuk Media on line dan social Media. Yang penting adalah
keseriusan, konsistensi dan komitmen pemilik merek Indonesia dalam melakukan
investasi merek di negara negara tujuan ekspor mereka.
Ke empat, Investasi
sumber daya Manusia
Setelah punya produk
yang pas dengan harga yang kompetitif, maka tidak kalah pentingnya adalah
pengembangan sumber daya manusia.
Sudah bukan rahasia
umum lagi kalau Indonesia di kenal salah satu eksportir TKI terbesar di
regional. Salah satu kunci memenangkan persaingan di era Pasar bebas ASEAN adalah
dengan memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik, dengan adanya pasar
bebas ASEAN, setiap Individu warga negara ASEAN bisa bebas bekerja di negara
manapun tanpa restriksi artinya profesional Indonesia harus siap bersaing
dengan profesional Singapura, Malaysia, Filipina atau Thailand dalam merebut
posisi posisi strategis di perusahaan perusahaan yang beroperasi di negara negara
ASEAN. Jangan sampai pekerja-pekerja Indonesia suka kebagian posisi staf
sementara posisi manajer dan direktur di rebut oleh profesional negara lain.
Inilah waktunya
intropeksi, berani bersaing untuk berkarir dan menjadi profesional di negara
ASEAN lain.
Kelima, Pentingnya
konsistensi.
Sering saya melihat
ketidak konsistenan kita, bukan Cuma urusan ngaret dalam meeting appointment
tapi juga inkonsisten dalam banyak hal, dari hal hal menyangkut waktu
misalnya waktu pengiriman order ekspor yang sering meleset, menyangkut kualitas
dimana seringkali produk sample dibuat jauh lebih bagus dari real production
nya , juga seringkali konsistensi kita dalam men deliver komitmen di
pertanyakan oleh pembeli luar negeri.
Keliatan serius dan
semangat di awal project namun hanya sebentar
saja, kurang fighting spirit, kurang daya tahan. Sikap konsistensi akan sangat
membantu pengusaha dan marketer Indonesia dalam membuka jalur pasar di negara
lain dan build up reputation yang merupakan komoditi paling mahal dalam
International business.
Penutup
Jalan menjadi pemain
regional itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu perjuangan
namun bukanlah Mission Impossible, banyak jalur yang bisa di manfaatkan untuk
melihat celah bisnis di negara ASEAN lain, misalnya dengan mengikuti misi
dagang atau ikut pameran di berbagai negara ASEAN, baik lewat jalur ikutan
pameran yang di organisir oleh BPEN maupun organisasi independen swasta.
Cara lain adalah
dengan berpartisipasi dalam event pameran dan edukasi seperti Jakarta Marketing
Week yang merupakan acara tahunan The Markplus conference dari Markplus Inc,
dimana pengusaha dan marketer bisa belajar dari para business leader maupun
government official yang bersedia sharing ilmu dan pengalaman mereka dalam
mengelola brand maupun company. Jangan lupa, Marketing Week ini adalah ajang
paling pas untuk melakukan networking yang pasti berguna untuk kemajuan usaha,
baik saat ini maupun di masa depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar