Kamis, 21 Januari 2016

Resume Seminar “Strategi Pemasaran Produk & Kemasan Yang Berkualitas Di Era Mea 2015” Juga “Mengembangkan Semangat Entrepreneurship dalam menghadapi Mea 2015”

Tutor: Bambang Sutedjo & Dr. Michael Adiwijaya
Created by: Ardila Wahyu Sintana/131500060/Manajemen A 2013/FE UNIPA

Latar Belakang MEA
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merupakan sebuah kesepakatan antara anggota ASEAN yang bertujuan untuk menghimpun negara-negara ASEAN ke dalam sebuah pasar tunggal. Konsekuensi logis dari rencana ini adalah adanya pasar bebas (Free Trade Area) antara Negara-negara anggota ASEAN. Ide MEA ini sudah di rintis sejak 10 tahun lalu. Yang bertujuan untuk meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan standar hidup penduduk negara anggota ASEAN.
Ada 4 area yang menjadi pilar MEA yaitu :
  • Pasar tunggal dan basis produksi
  • Wilayah ekonomi yang berdaya saing tinggi
  • Menjadi Kawasan dengan pembangunan ekonomi yang seimbang
  • Menuju integrasi penuh dengan ekonomi global.
Dengan diberlakukannya MEA nantinya tiap negara ASEAN akan mengurangi hambatan tarif seminimal mungkin hingga mencapai nol persen. Dari sisi Indonesia artinya dengan di implementasikannya pasar tunggal ASEAN berarti arus barang impor dari Negara-negara anggota ASEAN lain akan bebas masuk ke Indonesia.

Keuntungan dan Tantangan Indonesia menjelang MEA 2015
Di mata korporasi korporasi dunia, Indonesia dan ASEAN adalah kawasan yang paling menjanjikan, baik dari sisi jumlah penduduk maupun daya beli yang terus meningkat.
Di antara negara ASEAN, Indonesia merupakan pasar terbesar dimana Sepertiga potensi pasar ASEAN ada di Indonesia. Ditambah lagi pertumbuhan daya beli masyarakat Indonesia yang terus menerus meunjukkan peningkatan tajam. Sebagai negara terbesar di ASEAN dengan banyaknya populasi penduduk serta kekayaan alam berlimpah, Indonesia jangan hanya bersikap pasif dan pasrah menghadapi serangan produk dari negara-negara ASEAN lain. Jangan sampai pengusaha dan Industri Indonesia bukannya jadi tuan rumah, malah jadi penonton di negara sendiri.

Cara Memenangkan Persaingan menghadapi kompetitor ASEAN
Untuk bisa memenangkan persaingan dengan perusahaan perusahaan ASEAN lainnya, ada beberapa hal yang harus segera dilakukan korporat Indonesia.
Pertama, Mulai dengan merubah Pola Pikir atau Mindset.
Kita jangan lagi terlena masa lampau yang penuh proteksi ataupun hanya fokus mengandalkan pasar Indonesia  yang besar ini. Menjelang Pasar bebas ASEAN, kompetisi akan semakin ketat, dimana untuk memenangkan kompetisi melawan korporasi dari negara ASEAN lain diperlukan mental agresif menyerang, bukan mental pasif bertahan.
untuk bertahan kita harus berani menyerang, bukan hanya menjadi local champion tapi juga berani berkompetisi  dengan masuk ke negara negara lain dan menjadi champion in other country sambil merintis jalan menjadi Regional ASEAN champion.
Ini bukan cita cita mustahil, namun di perlukan keseriusan, kerja keras, komitmen dan konsistensi korporat dan marketer Indonesia untuk mewujudkan cita cita ini.
Betapa cuek nya korporat dan pengusaha Indonesia untuk menggarap pasar internasional. Jangankan pasar Internasional, menggarap pasar ASEAN yang ibaratnya masih di pekarangan rumah belakang pun terlihat tidak bersemangat.
Pilih Produk yang Pas
Walaupun keliatannya mirip, konsumen ASEAN sesungguhnya punya kultur dan selera yang berbeda dalam berbelanja. Carilah produk atau pelayanan yang pas, yang kira kira bakal di minati dan bakal laku di negara yang di tuju. Misalnya untuk produk makanan : Produk mie Instan rasa Indonesia cocok dengan selera konsumen Malaysia namun kalau mau sukses di Thailand atau Filipina, taste nya harus di sesuaikan dengan selera lokal.
Dari segi packaging, Marketer Indonesia harus jeli juga membaca purchase habit konsumen di tiap negara, misalnya produk deterjen bubuk, pasar Indonesia, Filipina dan Vietnam agak mirip dari sisi purchase habit consumer yang banyak membeli deterjen bubuk dalam bentuk kemasan kecil, bahkan sachet 32 gram, sedangkan konsumen Malaysia, Singapura dan Thailand lebih suka membeli kemasan besar 1 kg – 2 kg karena lebih praktis dan secara  value per gram nya lebih murah dibandingkan beli kemasan renceng.
Ketiga, Pentingnya Investasi Merek
Di bandingkan dengan negara maju yang pertumbuhan pasar private label nya lebih bagus dari branded items atau kawasan Timur tengah dan Afrika yang lebih kurang peduli akan brand, konsumen ASEAN boleh dibilang sangat Brand concious. Ini  bisa di lihat dari padatnya jumlah iklan di semua media, dari media cetak, Televisi hingga media luar ruang.
Menurut saya investasi merek adalah sangat penting dilakukan oleh korporat dan brand owner Indonesia, dan ini akan menguntungkan tidak saja untuk mendapatkan short term sales tapi long term investment. Investasi merek tidak mesti mahal atau harus menggunakan medium TV, masih banyak lagi media yang bisa di gunakan untuk melakukan komunikasi merek, termasuk Media on line dan social Media. Yang penting adalah keseriusan, konsistensi dan komitmen pemilik merek Indonesia dalam melakukan investasi merek di negara negara tujuan ekspor mereka.
Ke empat, Investasi sumber daya Manusia
Setelah punya produk yang pas dengan harga yang kompetitif, maka tidak kalah pentingnya adalah pengembangan sumber daya manusia.
Sudah bukan rahasia umum lagi kalau Indonesia di kenal salah satu eksportir TKI terbesar di regional. Salah satu kunci memenangkan persaingan di era Pasar bebas ASEAN adalah dengan memiliki kualitas sumber daya manusia yang baik, dengan adanya pasar bebas ASEAN, setiap Individu warga negara ASEAN bisa bebas bekerja di negara manapun tanpa restriksi artinya profesional Indonesia harus siap bersaing dengan profesional Singapura, Malaysia, Filipina atau Thailand dalam merebut posisi posisi strategis di perusahaan perusahaan yang beroperasi di negara negara ASEAN. Jangan sampai pekerja-pekerja Indonesia suka kebagian posisi staf sementara posisi manajer dan direktur di rebut oleh profesional negara lain.
Inilah waktunya intropeksi, berani bersaing untuk berkarir dan menjadi profesional di negara ASEAN lain.
Kelima, Pentingnya konsistensi.
Sering saya melihat ketidak konsistenan kita, bukan Cuma urusan ngaret dalam meeting appointment tapi juga  inkonsisten dalam banyak hal, dari hal hal menyangkut waktu misalnya waktu pengiriman order ekspor yang sering meleset, menyangkut kualitas dimana seringkali produk sample dibuat jauh lebih bagus dari real production nya , juga seringkali konsistensi kita dalam men deliver komitmen di pertanyakan oleh pembeli luar negeri.
Keliatan serius dan semangat di awal project namun hanya sebentar saja, kurang fighting spirit, kurang daya tahan. Sikap konsistensi akan sangat membantu pengusaha dan marketer Indonesia dalam membuka jalur pasar di negara lain dan build up reputation yang merupakan komoditi paling mahal dalam International business.

Penutup
Jalan menjadi pemain regional itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, perlu perjuangan namun bukanlah Mission Impossible, banyak jalur yang bisa di manfaatkan untuk melihat celah bisnis di negara ASEAN lain, misalnya dengan mengikuti misi dagang atau ikut pameran di berbagai negara ASEAN, baik lewat jalur ikutan pameran yang di organisir oleh BPEN maupun organisasi independen swasta.
Cara lain adalah dengan berpartisipasi dalam event pameran dan edukasi seperti Jakarta Marketing Week yang merupakan acara tahunan The Markplus conference dari Markplus Inc, dimana pengusaha dan marketer bisa belajar dari para business leader maupun government official yang bersedia sharing ilmu dan pengalaman mereka dalam mengelola brand maupun company. Jangan lupa, Marketing Week ini adalah ajang paling pas untuk melakukan networking yang pasti berguna untuk kemajuan usaha, baik saat ini maupun di masa depan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar